Sebuah Pencapaian Baru.

“Sebuah Pencapaian Baru” hal itulah yang sedang saya alami. Menjadi seorang ketua kelas dan ketua panitia sebuah kegiatan  telah saya rasakan pahit-manisnya. Namun, amanah baru yang saya terima ini merupakan pencpaian baru dalam hidupku. yah.yah. Alhamdulillah, amanah menjadi seorang Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa Century IPB telah berada dipundakku. Tepatnya saat berlangsungnya malam keakraban UKM Century pada 19-20 Des 2011, Ketua Century sebelumnya (Harun Al-Rasyid; TIN 46) mendemisionerkan diri dan memberikan jabatan Ketua Century selanjutnya kepada saya. Saat dilakukan pemilihan dengan beberapa rangkaian tes, entah mengapa saya merasa akan terpilih menjadi seorang ketua.  sejak saat itu, saya sadar betul amanah yang diberikan ini tidaklah untuk dibanggakan. Hanyalah kerja ikhlas untuk Century yang lebih baik itulah yang saya lihat dimata civitas Century saat memberikan kata “Selamat” kepada saya. Janji yang terucap dan tekad yang menggebuh mungkin dapat menjadi jaminan keseriusan dan ke-ikhlasan saya berkontribusi di Century. Tetapi keseriusan dan ke-ikhlasan teman-teman menagih janji, berkontribusi serta mengingatkan ketika khilaf  saya tunggu. Kalianlah yang menjadi alasan mengapa dan bagaimana Century IPB harus Lebih Baik. Danke; Allah SWT. Meine Eltern. Century IPB 

Pendidikan

Ketika sebagian merasakaan.

Sebagian  hanya mampu melihat.

Ketika sebagian dapat menikmati utuh.

Sebagian hanya mampu mendapatkan sedikit.

 

Ketika sebagian mendapatkan dengan jentikan jari.

Sebagian mendapatkannya dengan setengah mati.

Ketika sebagian sangat menghargainya.

Sebagian lagi mempermainkannya.

 

Ketika sebagian mengotori institusinya.

Sebagian rela mengabdi untuk institusinya.

Ketika bangsa lain mampu berprestasi.

Bangsa ini hanya mampu menikmati hasilnya.

Sebuah Pilihan, Keinginan, Tekat dan Impian

Perkenalkan saya Muh. Yunus Djamaluddin, biasa dipanggil yunus atau unot berasal dari Kota Makassar Sulawesi Selatan. Saat ini, saya sedang menempuh pendidikan di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan masuk memalui jalur USM IPB jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan. Setelah mengetahui saya lulus di jurusan ini banyak orang yang bertanya “mengapa saya memilih jurusan ini ?” . Saya tidak heran dengan hal tersebut, karena saya berasal dari kelas IPA saat SLTA. Jujur, saat itu tak ada alasan yang kuat tentang  jurusan apa yang ingin saya ambil di-IPB saat ingin mendaftarkan diri pada jalur USMI. Satu-satunya alasan kuat yang mendorong  saya adalah keinginan yang besar untuk bisa melanjutkan pendidikan ketingkat tertinggi di dunia pendidikan yaitu menjadi seorang mahasiswa. Sebagai anak pertama keingin bisa menyelesaikan pendidikan  hingga mendapatkan selar sarjana saat itu amat kuat, karena generasi sebelumnya (orang tua) belum berhasil menjadi seorang sarjana.

Saat ingin mendaftar USMI IPB, saya tidak memiliki banyak informasi tentang jurusan-jurusan yang ada di-IPB. Saat itu, bermodalkan katalog departemen yang diberikan oleh IPB saya mencari informasi tentang jurusan yang cocok. Harapan saya ketika itu adalah menyelesaikan kuliah secepatnya dan mendapatkan pekerjaan untuk mengumpulkan modal berwirausaha. Berpikir untuk mendapatkan modal yang cepat yaitu dengan cara bekerja di bank-bank (Pikiran anak muda). Setelah melihat lapangan kerja di tiap-tiap jurusan saya memilih jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan sebagai pilihan pertama dan jurusan Perikanan Tangkap sebagai pilihan kedua. Alasan untuk pilihan kedua saya saat itu adalah kelak ingin melanjutkan usaha yang sedang dirintis ayah saya yaitu di bidang perikanan.

Tidaklah mudah dan mulus untuk menjasi seorang bahasiswa bagi saya. Tekat yang kuat untuk berprestasi, keinginan yang menggebuh untuk menjadi mahsiswa harus terkendala dengan keadaan financial keluarga. Krisis financial keluarga saat itu menimbulkan ketidakmampuan untuk menyatakan keinginan melanjutkan pendidikan ke-Universitas kepada orang tua. Namun, bukan pula unot seorang pemuda putus asa. Informasi bahwa di-IPB menerapkan pembiayaan subsidi silang yang mampu meringankan beban biaya mahasiswa baru, memberikan emangat baru untuk mengambil jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan IPB.

Sejak dulu saya ingin menjadi seorang wirausahawan dan ingin membangun usaha agar mampu hidup mandiri, memiliki kebebasan finansial, dan alasan  kemanusiaaan seperti membuka lapangan pekerjaan.  Merencanakan kehidupan saya setelah berhasil menyelesaikan pendidikan S-1 adalah hal yang sering saya lakukan. Banyak impian yang ingin dilakukan kedepan, melanjutkan pendidikan S-2 dan merealisasikan bisnis mandiri adalah prioritas lima tahun akan datang. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh seorang wirausahaan sukses. tidak sekedar berorientasi untuk mendapatkan profit, wirausahawan merupakan salah satu sarana beribadah dan menjalankan misi kemanusiaan.

Keinginan-keinginan tersebut tidak hadir begitu saja dalam diri saya. Walaupun sejak kecil ingin menjadi wirausahawan, keinginan saya tersebut dikuatkan ketika meliat keberhasilan para mahasiswa yang berhasil membangun dan mengembangkan usahanya bahkan mampu berbuat lebih untuk sesama. Pendidikan yang saya terima di kampus IPB dan mentoring yang saya dapatkan dari Elang Gumilang (Juara Wirausaha Muda Mandiri 2008) melalui komunitas Maestro Muda Indonesia (MMI) menginspirasi saya untuk memfokukan tujuan  mewujudkan semua impian.

Mewujudkan keinginan menjadi seorang wirausahawan, kini saya telah mempunyai usaha di bidang kuliner bersama teman-teman asal Makassar. Produk kami adalah makanan tradisional Sulawesi selatan berbahan dasar pisang yag telah di Inovasi. Sampai saat ini kami telah memiliki dua buah kedai yang beroprasi dilingkungan IPB dan telah dikenal dikalangan mahasiswa sebagai produk IPB.  Tentulah bukan hal yang mudah untuk mewujudkan keinginan-keinginan tersebut tanpa disertai dengan kerja keras. Sebuah kewajiban untuk memulai usaha sejak saat ini untuk merealisasikan impian menjadi wirausahawan.

 Mahasiswa adalah kerja kesas dan berbuat lebih untuk sesama. Prestasi akademik saja tidak cukup, untuk mendukung semua itu mahasiswa harus memiliki skill komunikasi dan kerjasama yang baik.  Kemampuan tersebut tidak saya  peroleh dengan aktif di organisasi seperti Purna Paskibraka Indonesia (PPI) dan Century IPB.

Perjalanan hidup adalah sesuatu yang tak dapat diputar, apa yang diperoleh saat ini adalah sebuah pilihan. Menjadi seseorang yang lebih baik adalah kewajiban, melakukan suatu hal lebih adalah pilihan. Ya Rabb, jangan biarkan kebejatan menjadi sebuah pilihan kami dan berilah keikhlasan dalam naugangan-Mu.

Pantaskah Kita Tidak Bersyukur..?

Keluh kesah atas kehidupan yang kita jalani sering membuat kita berujung pada mendustakan nikmat Allah SWT.

Terkadang sesuatu yang kita dapatkan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, mungkin ada sahabat atau rekan kita yang lebih dari kita, lebih berprestasi, lebih kaya, lebih sukses atau lebih segalanya dari kita, kehidupan yang keras, tuntutan yang semakin rumit dan masalah lainnya merupakan salah satu alasan mengapa banyak manusia terkadang tidak syukur atas apa yang dimilikinya. Ujian adalah alat yang digunakan oleh Allah SWT untuk menaikkan derajat kita atau sebaliknya menurunkan derajat kita dihadapannya.

Banyak dari kita menafsirkan bahwa ujian hanya diberikan kepada orang-orang yang telah berhasil memiliki materi maupun non-materi. padahal keadalan dalam kekurangan dan keterpurukan merupakan suatu ujian. sesekali kita juga melihat orang yang telah diberi Nikmat atas apa yang ia cita-citakan sejak lama menjadi tidak mensyukuri nikmat tersebut karena terdapat cobaan didalamnya. Pantaskah kita tidak mensyukurinya..?

Apa yang diberikan kepada kita merupakan kehendak Allah SWT yang patut untuk kita syukuri, semua memiliki maksud dan tujuan, tak ada yang dapat memilih maupun menolaknya. Kita hanya sebagai mahkluk yang lemah dihadapannya hanya bisa meminta pertolongan dan jalan keluar atas apa yang kita hadapi. Itulah hakeket kita sebagai mahkluk yang lemah. #bersyukur

Curhat Pak SBY Soal Gaji Multitafsir.

Akhir-akhir ini banyak peristiwa yang mempengaruhi opini publik di Indosesia. Muai dari soal tidak puasnya masyarakat terhadap vonis Gayus HP Tambunan yang dijatuhi pidana penjara selama 7 tahun dan denda 300 juta rupiah, hingga yang paling terbaru tentang curhatan Pak SBY soal gaji presiden yang tak pernah naik sampai saat ini. Gaji Presiden yang tak kunjung naik ini di lontarkan oleh Pak SBY saat rapat kerja bersama TNI-POLRI di Jakarta. Beliau mengatakan dalam “gaji Preseden sampai saat ini belum naik”.

Kalimat yang dilontarkan Pak SBY itulah yang menjadi pembicaraan di berbagai media massa dan masyarakat luas. Ada yang menilai hal itu dilakukan SBY sebagai respon tidak puasya terhadap gaji yang Beliau terima, tetapi ada pula yang menilai hal tersebut merupakan gurauan dan bahasa politik SBY. Sebenarnya ucapan SBY tersebut dapat memimbulkan tanggapan yang berbeda dari setiap orang yang mendengarkannya (multitafsir).

Dilihat dari respon masyarakat yang melihat perkataan Pak SBY merupakan suatu respon ketidakpuasan terhadap gaji yang dia terima, mereka berpendapat Pak SBY terlalu berlebihan. Berdasarkan Informasi yang ada di media massa gaji pokok Presiden SBY saat ini sebesar 62 juta rupiah/bulan. Berdasarkan hal tersebut masyarakat memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang menilai gaji presiden saat ini sudah cukup adil bahkan masih tinggi bila dibandingkan kinerja yang beliau lakuakan pada negara dan rakyat Idonesia. Memang benar bila dibandingkan dengan gaji pokok pemimpin Negara Asia lainnya seperti Cina dan India, gaji pokok presiden SBY sangat tinggi. Gaji pokok PM india hanya sekitar 9 juta rupiah/bulan sedangkan Presiden Cina hanya sekitar 12 juta rupiah/bulan. Padahal kita ketahui India dan Cina memiliki pertumbuhan ekonominya lebih maju dibanding pertumbuah ekonomi Indonesia. Jika memeng benar tujuan dari perkataan SBY soal ketidaknaikan gaji pokok hingga saat ini datang dari hati tentunya wajar bila masyarakat menilai SBY terlalu berlebiahan.

Namun, ada pula yang tidak terlalu sinis terhadap perkataan SBY soal gaji yang tidak pernah naik. Mereka berpendapat bahwa gaji pokok SBY dapat saja dinaikkan, jika beliau mampu memberikan kinerja terbaik untuk Negara dan rakyat Indonesia yang sampai saat ini masih serba kekurangan.

Sedangkan jika hal tersebut dilihat hanya sebagai guaruan Pak SBY untuk memberikan semangat kepada para prajurit TNI-POLRI yang baru saja menerima kenaikan gaji, tentunya perkataan beliau tersebut pidak perlu dipermasalahkan. Apabila hal ini benar maka inilah yang menjadi masalah baru. Media massa yang mengangkat persoalan ini menjadi suatu yang lebih rumit tanpa mempertimbangkan variabel gurauan Pak SBY berhasil membawa opini publik kearah variable ketidakpuasan Pak SBY terhadap gaji yang beliau terima.

Tentunya, apabila benar SBY melontarkan perkataan tersebut hanya sebagai gurauan, maka media massa telah menjadikan SBY sebagai korban. Media massa memang terkadang hanya mementingkan naiknya reting media tersebut dari berita yang disebarkannya dibandingkan dengan kebenaran berita tersebut. Tidak sedikit juga masyarakat menilai media massa sering melebih-lebihkan suatu masalan dan polemik untuk tujuan lain. Setidaknya ada satu hal yang dapat terjadi akibat media massa merespon perkataan SBY tanpa melihat vareabel “gurauan Pak SBY.”

Akibatnya adalah publik akan melihat dan melinai Pak SBY berlebihan akibat perkataan beliau tentang gaji yang tak kunjung naik. Padalah seperti yang saya katakana tadi, bahwa perkataan SBY itu multitafsir jika dilihat dari tujuannya. Setidaknya ada dua tujuan yang melandasi beliau melontarkan perkataan tersebut yaitu, respon ketidakpuasan atau hanya sekedar gurauan Pak SBY. Tentunya Pak SBY sendirilah yang mengetahui tujuan beliau melontarkan perkataan tersebut. Pada akhirnya anda juga-lah yang berhak menilai perkataan SBY tersebut dari tujuan yang mana menurut anda pantas.

Hanya sebagai tambahan dari hal yang telah saya bahas diatas, saya ingin juga membahas lebih lanjut soal peran media massa. Hidupnya media massa di suatu negara adalah salah satu indikator keberhasilan demokrasi Negara tersebut. Media massa pada hakekatnya mempunyai peran untuk membawa opini publik terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah, sebagai sarana perluasan pembangunan untuk masyarakat serta sebagai sarana pengontrol pemerintahan.

Namun, percayakah anda media massa juga dapat menghancurkan demokrasi suatu Negara? Seperti yang kita ketahui, media massa juga merupakan sarana untuk mencari keuntungan (laba) melalui peningkatan reting media massa tersebut. Berbagai hal dilakukan media massa untuk menaikkan retingnya. Membuat berita dari suatu masalah dan polemik menjadi berlebih-lebihan (tidak sesuai fakta) untuk mengangkat nilai jual berita yang dihasilkan merupakan salah satu sisi gelap media massa. Padahal kita mengetahui membuat suatu berita menjadi tidak sesuai dengan fakta merupakan hal yang menyalahi hakekat tujuan dari media massa. Sehingga opini publik juga menjadi salah menilai persoalan atau polemik yang menjadi berita dimedia massa.